Yuk.! Kenali Faktor Resiko Diabetes Melitus

Diabetes Melitus
http://www.tempatsehat.com/2019/09/yuk-kenali-faktor-resiko-diabetes.html
Yuk.! Kenali Faktor Resiko Diabetes Melitus - sumber gambar (ionhealthcaresscholar.com)

Sebelumnya saya sudah membuat artikel APAKAH DIABETESMELITUS ITU?, sekarang saya membuat artikel tentang faktor resiko diabetes melitus. Beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan seseorang bisa mengidap diabetes melitus, yaitu :

Faktor Resiko Yang Tidak Bisa Diubah atau Dimodifikasi

  • Adanya faktor keturunan pada anggota keluarga yang menderita diabetes melitus, resiko untuk mendapatkan diabetes melitus akan menjadi sangat tinggi. Akan tetapi faktor keturunan saja belum pasti menjadikan seseorang akan mengida diabetes melitus. Orang tua yang mengidap diabetes melitus belum tentu keturunannya akan mengidap diabetes. Hanya saja resikonya untuk bisa mengidap diabetes akan lebih besar.
  • Usia. Resiko untuk mengidap prediabetes atau diabetes akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
  • Perbedaan ras. Penduduk ras Afrika, Hispanik, Indian, Asia dan pasifik memiliki resiko lebih tinggi menderita diabetes melitus bila dibandingkan dengan ras Kaukasia.
  • Jenis kelamin. Resiko terjadi diabetes melitus pada wanita dengan riwayat pernah menderita gestational diabetes lebih besar bila dibandingkan dengan wanita yang hamil dengan cara normal.


Faktor Resiko Yang Dapat Diubah atau Dimodifikasi
  • Berat badan yang berlebih. Orang yang meiliki berat badan yang berlebih atau gemuk mempunyai resiko mengidap diabetes yang lebih tinggi. Kejadian diabetes tipe-2 pada orang yang memiliki berat badan berlebihan atau gemuk lebih tinggi bila dibandingkan dengan orang yang normal. Gemuk sangat terkait dengan “resistensi insulin”, gemuk akan menyebabkan pankreas mengalami “kelelahan” karena harus memproduksi ekstra hormon insulin.
  • Kurangnya aktivitas fisik dan berolahraga.
  • Diet yang tidak sehat, yaitu asupan energi yang tinggi dari makanan, tetapi kurang sehat. Diet dengan asupan energi tinggi berangsur-angsur menimbulkan kelebihan berat badan (overweight) dan kegemukkan diperut (obesitas tipe sentral) yang erat kaitannya dengan “resistensi insulin”.
  • Adanya hipertensi (tekanan darah tinggi).
  • Adanya dislipidemia (kelainan profil lemak darah).

Perjalanan Diabetes Melitus Tipe-2
Diabetes melitus merupakan kelainan metabolisme yang berjalan secara progresif. Jika pengendalian diabetes dilakukan dengan buruk, maka timbulnya komplikasi dapat terjadi dengan cepat. Sebaliknya, jika pengendalian dengan baik bisa memperlambat atau dapat mencegah terjadinya komplikasi diabetes. Timbulnya diabetes melitus tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi diawali dengan adanya prediabetes terlebih dahulu.

APA YANG HARUS DILAKUKAN SAAT MENGALAMI PREDIABETES?

Prediabetes adalah kondisi saat telah terjadi kenaikan kadar gula darah diatas normal, tapi belum termasuk kedalam kategori diabetes. Pengidap prediabetes pada umumnya tidak disertai dengan keluhan sehingga sering tidak terdeteksi. Sepertiga penderita prediabetes akan menetap, dan sepertiganya lagi akan sembuh denga upaya terapi, dan sisanya akan berlanjut menjadi diabetes.

Prediabetes dapat dicegah agar tidak berlanjut menjadi diabetes dengn mengubah gaya hidup, menurunkan berat badan, mengonsumsi diet yang sehat, serta sering melakukan olahraga secara teratur. Menurut sebuah penelitian, terapi gaya hidup lebih efektif untuk mencegah prediabetes menjadi diabetes melitus tipe-2 dibandingkan dengan terapi obat-obatan. Dokter akan memberikan resep apabila merubah gaya hidup tidak dapat memperbaiki kondisi pengidap prediabetes.

Dengan seiring bertambahnya berat badan, akan meningkatkan resiko terjadinya diabetes. Akumulasi jaringan lemak dalam tubuh dapat menimbulkan berat badan (overweight) bahkan kegemukan (obesitas). Hal ini dapat ditentukan dengan perhitungan indeks masa tubuh (IMT).

Rumus perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah membagi bobot badan (dalam kilogram) dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Berdasarkan hasil perhitungan IMT, maka seseorang dapat dikategorikan memiliki bobot badan normal, overweight, atau obesitas (kegemukan).

Berikut ini contoh perhitungan IMT seseorang. Misalnya pria dewasa memiliki tinggi badan 175 cm dan berat badan 72 kg. Maka perhitungan nilai IMT sebagai berikut.

IMT = 72 / 1,75²
IMT = 72 / 3,06
IMT = 23,5 kg/m²

Berdasarkan hasil berikut dapat diketahu bahwa pria tersebut ada pada kategori overheight.

Orang yang bobot baan berlebih biasanya disertai dengan peningkatan ukuran lingkar perut (obesitas tipe sentral), yaitu nilai lingkar perut pria lebih dari 90 cm dan pada wanita lebih dari 80 cm.

Komplikasi Akut Diabetes Melitus
Diabetes sangat mudah mengalami akut, seperti hiperglikemia atau hipoglikemia. Kedua kondisi ini harus ditangani dengan baik agar tidak merusak otak atau menyebabkan kematian bagi obesitas.

Para enderita diabetes melitus terjadi gangguan pengaturan gula darah. Kadar gula darah yang tinggi dapat menimbulkan berbagai komplikasi, baik komplikasi akut maupun komplikasi kronik.

Komplikasi akut diabetes melitus dapat terjadi secara tiba-tiba karena kadar gula darah tidak terkendali terlalu tinggi (hiperglikemia) atau tidak terkendali terlalu rendah (hipoglikemia). Otak sebagai organ vital yang sangat rentan terhadap kondisi perubahan kadar gula darah sehingga asupan glukosa ke otak harus selalu terpenuhi dalam kadar batas normal.

Keadaan hiperglikemia atau hipoglikemia merupakan keadaan akut (mendadak) yang harus segera ditangani karena dapat membahayakan kesehatan otak, bahkan sampai bisa menyebabkan kematian.

Hipeglikemia
Keadaan hiperglikemia akut dapat terjadi jika kadar gula darah mendadak meningkat sangat tinggi di atas batas normal. Hiperglikemia dapat disebabkan oleh :

  • Asupan makanan (energi) yang terlalu banyak, seperti penyandang diabetes yang tidak mengontrol asupan makanan.
  • Berhenti atau lupa meminum obat hipoglikemia oral.
  • Lupa atau berhenti menyuntikkan hormon insulin pada penyandang yang mendapatkan terapi insulin.
  • Adanya stres fisik yang terlalu berat karena diabetesi mengidap penyakit lain, misalnya serangan jantung, stroke, infeksi dan penyakit lainnya.

Kalau gejala hiperglikemia akut sebagai berikut :

  • Gejala awalnya adalah merasa haus dan ingin minum banyak air.
  • Kesadaran menurun hinngga koma.
  • Terdapat tanda-tanda dehidrasi (kekurangan cairan), misalnya bibir kering atau pecah-pecah, mata tampak cekung, tidak buang air kecil, serta kulit kering dan jika dicubit akan lambat untuk kembali.

Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah suatu keadaan saat kadar gula darah mendadak turun dibawah batas normal (kurang dari 60 mg/dL). Gejala hipoglikemia dapat terjadi saat kadar gula darah kurang dari 100 mg/dL terutama pada orang yang sudah lama mengidap diabetes.

Hipoglikemia harus dihindari, terutama pada usia lanjut, ini karena hipoglikemia dapat berakibat fatal dan menyebabkan kemunduran mental.

Penyebab terjadinya hipoglikemia sebagai berikut :

  • Kurangnya asupan kalori (makanan) karena terlalu ketat membatasi asupan makanan, asupan makanan kurang karena sakit atau kesibukan yang menyebabkan diabetes lupa makan.
  • Konsumsi obat diabetes golongan “sulfony-lurea” dalam dosis cukup, tetapi asupa n makanan kurang atau kelebihan dosis obat hipoglikemik oral dari golongan “sulfonilurea”.
  • Kelebihan dosis suntikan insulin.
  • Terlambat makan atau tidak makan setelah suntik insulin.
  • Kelebihan aktivitas fisik, tetapi asupan kalori kurang, misalnya setelah beraktivitas berat atau berolahraga.
  • Diabetesi mengalami penyakit selain diabetes melitus sehingga tubuh membutuhkan energi ekstra atau sakit yang menyebabkan berkurangnya asupan makanan.

Gejala-gejala terjadinya hipoglikeia sebagai berikut :

  • Lemas dan lapar
  • Banyak berkeringat (seperti mandi keringat dingin), tubuh gemetar, dan berdebar-debar
  • Pusing dan tekanan darah menurun
  • Gelisah, sulit berpikir, dan sulit berbicara
  • Kesadaran menurun, seperti orang ngantuk hingga tidak sadar (koma). Keadaan ini perlu diantisipasi dan dicurigai sebagai gejala awal hipoglikemia
  • Kejang-kejang

Pertolongan pertama dirumah jika terjadi hipoglikemia

  • Pastikan kadar gula darah pasien terlebih dahulu. Pemeriksaan kadar gula darah sebaiknya dilakukan pada keadaan hipoglikemia atau hiperglikemia. Pemeriksaan gula darah dapat menggunakan glukometer (alat pemgukut kadar gula darah). Karena itu, setiap anggota keluarga seharusnya tahu cara menggunakan glukometer.
  • Apabila tidak ada glukometer sehingga kadar glukosa darah tidak dapat diukur dan ragu terhadap kondisi diabetesi—hiperglikemia atua hipoglikemia, maka perlakukan diabetesi sebagai keadaan hipoglikemia. Kondisi hipoglikemia adalah jika kadar gula darah dibawah 60 mg/dL.
  • Apabila pasien mengalami hipoglikemia, maka berikan segera sumber karbohidrat yang cepat diserap oleh tubuh. Misalnya dua sendok gula pasir yang dilarutkan dalam segelas air. Jangan terkecoh dengan makanan manis karena tidak semua makanan manis mengandung gula, mungkin saja mengandung pemanis.
  • Jangan memaksa untuk memberikan minum jika diabetesi tidak sadar atau koma. Apabila pasien tersendak maka cairan bisa masuk ke paru-paru. Anda dapat memberikan sumber karbohidrat lain, seperti roti manis, atau kbuah kurma setelah pasien sadar.
  • Apabla diabetesi mengalami hiperglikemia, maka jangan memberi gula ataupun jenis makanan sumber karbohidrat yang lain.
  • Segera rujuk ke rumah sakit setelah melakukan pertolonga pertama

Upaya Pengendalian Diabetes Melitus
Upaya pengendalian kadar gula darah bagi diabetesi wajib dilakukan, kadar gula darah yang selalu terkontrol membuat diabetesi hidup sehat layaknya orang normal ada umumnya.

Mengapa diabetesi harus melakukan kendali diabetes?
Pertanyaan ini sangat sering ditanyakan bagi pengidap diabetesi. Penderita diabetes harus melakukan upaya pengendalian agar kadar gula darah dapat terkendali dengan baik. Jika kadar gula darah terkendali akan memberikan keuntungan bagi diabetesi sebagai berikut :

  • Diabetesi dapat hidup normal seperti orang sehat
  • Diabetesi dapat hidu nyaman tanpa adanya keluhan
  • Komplikasi diabetes dapat dicegah atau diperlambat

Pengendalian kadar gula darah diabetesi dapat dilakukan dengan cara menerapkan lima pilar diabetes, yaitu edukasi, pengaturan makanan, olahraga, obat dan kontrol gula darah mandiri. Dapat diketahui bahwa komplikasi diabetes dapat menyebabkan penyakit pembuluh darah, seperti stroke, penyakit jantung koroner.

Karena itu, upaya pengendalian diabetes sangat penting bukan hanya semata-mata mengendalikan kadar gula darah saja. Tetapiharus mengendalikan tekanan darah, profil lemak darah dan bobot badan dalam batas normal.

APAKAH DIABETES DAPAT DISEMBUHKAN?
Diabetes melitus merupakan kondisi yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan melalui lima pilar tadi. Deteksi dini terjadinya prediabetes penting banget dilakukan untuk mencegah terjadinya diabetes.

Jika di diagnosis diabetes, janganlah panik. Fokuslah pada pengendalian diabetes melalui lima pilar kendali diabetes. Diabetesi harus sadar bahwa penyakit diabetes tidak bisa disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan. Kondisi yang sering ditemui dimasyarakat adalah diabetesi yang sering mencari obat anti-diabetes tetapi tidak mau berolahraga dan mengatur pola makan.

Bagaimana Upaya Pengendalian Diabetes?
Berikut upaya pengendalian diabetes :

  • Edukasi diabetes. Harus selalu ingin tahu perihal diabetes melalui kegiatan membaca, seminar, dan lain sebagainya.
  • Mengontrol pola makan. Harus selalu mengontrol pola makan dengan prinsip 3J yaitu jadwal, jenis, dan jumlah makan.
  • Beraktivitas. Melakukan aktivitas fisik dan berolahraga secara teratur. Dosis olahraga dapat diatur dengan pedoman FIT (frekuensi, intensitas, time).
  • Obat hipoglikemik oral dan mungkin suntikan insulin. Diberikan jika upaya pengaturan makan dan olahraga tidak cukup mengendalikan kadar gula darah diabetes.
  • Pemantauan gula darah secara mandiri. Pemeriksaan gula darah secara mandiri sangat bermanfaat agar pengidap diabetes bisa mengetahui kadar gula darahnya sehingga bisa mengatur pola makan, aktivitas dan dosis obat atau dosis hormon insulin yang harus diterapkan.

Pengelompokkan Upaya Pengendalian Diabetes Melitus Tipe-2
Para diabetesi dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok berdasarkan keberhasilan upaya kendali diabetes sebagai berikut :

  • Kelompok I. Kelompok diabetesi yang kadar gula darahnya dapat terkendali dengan mengatur pola makan dan berolahraga tanpa memerlukan obat hipoglikemik oral.
  • Kelompok II. Kelompok diabetes yang membutuhkan pengaturan pola makan dan olahraga serta memerlukan obat hipoglikemik oral baik dalam dosis kecil maupun tinggi, atau kombinasi beberapa golongan obat untuk mengendalikan kadar gula darahnya.
  • Kelompok III. Kelompok diabetes yang sudah memerlukan hormon insulin untuk mengendalikan kadar gula darahnya.

Diabetes Dan Resiko Penyakit lain
Terdiagnosis diabetes tipe-2 berarti beresiko untuk mempunyai masalah kesehatan lainnya.


Hipertensi
Penderita diabetes yang juga mengidap hipertensi membuthkan upaya pengontrolan yang lebih ketat terhadap kondisi hipertensinya. Tekanan darah diabetes harus dikendalikan hingga mencapai target kurang dari 130/85 mmHg. Angka ini lebih rendah bila dibandingkan dengan target hipertensi tanpa diabetes. Alasannya, karena pengidap diabetes sekaligus hipertensi memiliki resiko yang besar untuk mengalami penyakit jantung koroner, serangan jantung dan stroke.

Dislipidemia
Dislipidemia adalah kelainan profil lemak darah yang ditandai dengan peningkatan kadar kolestrol total, penurunan kadar kolestrol-HDL, peningkatan kadar kolestrol-LDL dan peningkatan kadar trigliserida. Kadar kolestrol tinggi yang disertai dengan kadar gula darah yang tinggi semakin meningkatkan timbulnya resiko penyakit jantung, penyakit pembuluh darah dan stroke.

Kondisi kadar kolestrol tinggi pada pengidap diabetes harus diterapi dengan upaya diet rendah kolestrol, diet rendah lemak, dan konsumsi obat penurun kolestrol yang diresepkan dokter.

Penyakit penyerta lainnya
Apabila diabetes juga mengidap beberapa penyakit lain, seperti sakit gigi, asma, bronkitis kronis, TBC, hepatitis, dan lainnya, maka penyakit-penyakit tersebut harus dikonsultasikan kepada dokter. Apabila penyakit-penyakit tersebut cukup berat, maka diabetesi perlu dirawat dirumah sakit sebagai upaya pengendalian kadar gula darah yang dapat dipantau dengan baik.

Berbagai Permasalahan Yang Sering Timbul Pada Diabetesi
Selain timbulnya penyakit penyerta, diabetesi sering kali mengalami beberapa permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan penyakitnya.

Permasalahan kaki secara mandiri bagi diabetesi
Permasalahan luka atau borok pada kaki akibat diabetes merupakan masalah yang sering terjadi pada diabetesi. Borok ada kaki merupakan ancaman akan timbulnya amputasi kaki. Karena itu diabetesi harus memantau kaki sendiri secara rutin. Jika perlu meminta bantuan orang lain.

Prinsip perawatan pada kaki diabetesi sebagai berikut :
  • Hindari luka pada kaki akibat beraktivitas
  • Hindari penggunaan alas kaki yang salah
  • Hindari tindakan traumatik pada kaki
  • Segera obati jika ada luka pada kaki
Upaya Pencegahan Diabetes Melitus
Telah jelas bahwa diabetes merupakan kondisi yang dapat berjalan hingga menimbulkan suatu komplikasi. Karena itu, mari kita lakukan upaya pencegahan komplikasi diabetes sebagai berikut :

Pencegahan primer

Pengertian pencegahan primer adalah mencegah orang normal dan pengidap prediabetes agar tidak menjadi pengidap diabetes. Pencegahan dini terjadinya diabetes dapat dilakukan dengan mencegah kelebihan berat badan dan kegemukan, olahraga secara teratur, serta mengontrol pola makan dengan baik. Selain itu, kondisi prediabetes dapat diterapi dengan obat-obatan.

Pencegahan sekunder

Apabila seseorang telah mengidap diabetes, maka tindakan pencegahannya adalah pencegahan sekunder. Yaitu berbagai upaya untuk mencegah timbulnya komplikasi diabetes. Upaya tersebut meliputi lima pilar seperti yang telah dibahas sebelumnya.

Pencegahan tersier

Apabila pengidap diabetes sudah mengalami komplikasi diabetes, maka tindakan pencegahannya adalah mencegah kecacatan akibat berbagai komplikasi diabetes. Berbagai penyakit komplikasi seperti penyakit jantung koroner, retinopeti diabetik, atau nefroati diabetic harus diterapi oleh dokter agar tidak berlanjut menjadi serangan jantung, kebutaan, atau kegagalan fungsi jantung.

Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi sobat sehat, dan akan selalu menerapkan pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit-penyakit yang tidak diinginkan. 









Related Posts

Load comments

Comments